Friday, May 23, 2014

Love Started From A Little Thing

Tittle                            : Love Started From A Little Thing
Author                         : Hwang Ri Tae
Main cast                     : Lee Jinki aka SHINee’s Onew and SNSD’s Kim Taeyeon
Support cast                :  -       other SHINee and SNSD members
       -          Kwon Jiyong
       -          Seungri Lee
Genre                           : Romance

P.S : This is my very first fanfic. I’m sorry if it’s not that good or enjoyable for you guys. Please comment^^
         All the things I created in this ff is totally not real. I mean, it was only from my imagination. So pls
         don’t think that it’s real if I said some bad things about SM.
         Thanks
          Ini fanfic saya yang paling pertama. Maaf kalau tidak sebagus itu dan dapat dinikmati dengan baik   
          oleh kalian. Harap komentar^^
           Semua yang saya buat di ff ini benar-benar tidak nyata, semuanya dari imajinasi saya. Jadi jangan    
           berpikir itu benar jika saya mengatakan beberapa kata buruk tentang SM
          Thanks
***
Onew’s POV
                      Namaku adalah Lee Jinki. Aku adalah seorang pria muda yang berasal dari keluarga yang –bisa dibilang cukup kaya. Aku mengikuti audisi yang diadakan SM Entertainment saat aku masih duduk di bangku SMA dulu. Saat aku mengikuti audisi itu, aku sama sekali tidak pernah menyangka akan lolos audisi. Mengingat sainganku yang cukup berat saat itu. Aku sangat bahagia saat mengetahui aku lolos audisi tersebut. Yang ada dipikiranku saat itu hanya satu. “Aku tak akan menyusahkan orang tuaku lagi”. Tapi semua kebahagiaanku itu lenyap saat aku merasakan rasanya menjadi trainee di agensi terbesar di Korea Selatan ini. Mereka melatihku –dan para trainee yang lain dengan sangat keras. Kami tau bahwa yang mereka lakukan adalah hal yang penting bagi karir kita saat debut nanti. Tapi bayangkan, apakah kalian akan bertahan jika kalian menjadi trainee selama kira-kira lima tahun kalian akan mendapat tindak kekerasan jika kalian melakukan sedikit saja kesalahan saat latihan? Ya, benar. Aku dan para trainee lainnya merasakan hal itu. Trainer (pelatih) kami tidak akan segan menendang kaki kami jika kami salah melakukan gerakan dance. Mereka akan menampar kami jika kami melakukan crack saat kami latihan menyanyi. Itu semua menyakitkan. Walaupun para sunbae kami yang telah debut –seperti TVXQ, Super Junior, dan lainnya telah memberikan semangat dan nasehat-nasehat untuk menguatkan kami, tetap saja. Bahkan sudah ada beberapa trainee yang kabur bahkan sampai bunuh diri karena tidak tahan. Untungnya, aku tidak melakukannya. Jika aku melakukannya, aku tidak akan menjadi SHINee’s leader Onew seperti sekarang. Tetapi tentu saja aku pernah kabur. Saat itu aku sudah benar-benar depresi. Aku sudah tidak tahan dengan hal yang tidak berperikemanusiaan yang dilakukan trainer kami. Akhirnya aku memutuskan untuk kabur. Aku pergi ke taman kota dengan masih menggunakan baju latihan (jaket sederhana dan celana training). Saat itulah pertama kali aku melihatnya. Ya, gadis yang sampai saat ini aku cintai. Dia Kim Taeyeon. Dia menghampiriku saat aku duduk di bangku taman yang terletak di pinggir taman yang sudah mulai sepi itu. Dia duduk disampingku.
 “Apa yang membuatmu memutuskan untuk kabur, Jinki-ssi?”
Aku menoleh. Awalnya aku tak mengenalinya, tapi saat aku mengingat lagi, akhirnya aku mengingatnya. Dia adalah Kim Taeyeon, sahabat dari teman sesama traineeku, Kim Hyoyeon. Aku hanya tersenyum.
“Aku merasa sudah tidak mampu, Taeyeon-ssi. Aku sudah tidak tahan untuk bertahan dalam agensi sialan itu.”
Dia tertawa. Oh Tuhan, cantik sekali dia. Bagaimana bisa aku baru menyadarinya sekarang?
“Rupanya pemikiran kita sama. Tetapi aku akhirnya sadar. Untuk apa kita kabur? Jika kita merasa tidak mampu, bagaimana bisa kita bertahan dalam agensi sialan itu selama kurang lebih tiga tahun? Sebaiknya kau kembali, Jinki-ssi. Semua penderitaan ini akan berakhir jika kita telah debut.
Aku berpikir keras. Ada benarnya juga perkataan Taeyeon. Akan sangat sia-sia sekali jika aku menyerah begitu saja. Sia-sia semua perjuanganku selama ini.
“Tapi belum tentu kita akan debut,” aku tetap mengelak.
“Kita memang tidak tau. Tetapi walaupun kita tidak akan debut nanti, aku yakin setelah kita keluar dari agensi itu, kita akan menjadi pribadi yang lebih baik dan berbakat. Tidak akan ada yang sia-sia selama hal yang kita lakukan adalah hal baik,”
Aku masih berpikir, apakah aku akan kembali atau tidak. Taeyeon tersenyum lagi,
“Nah, Jinki-ssi. Langit sudah mulai gelap. Sebaiknya kita kembali ke SM Building,” Setelah menimang-nimang, akhirnya aku memutuskan untuk kembali.
                      Semenjak hari itu, aku dan Taeyeon semakin dekat. Kami sering menyapa dan membungkukkan badan jika bertemu. Bahkan kami sudah tidak menggunakan embel-embel “-ssi” lagi sekarang. Dia memanggilku “Ondubu” atau “Onew”. Dia memanggilku dubu (tahu) karena menurutnya aku memiliki kulit yang putih dan halus seperti dubu. Hahaha, ada-ada saja. Lalu Onew? Entahlah, aku juga tak tau mengapa dia memanggilku seperti itu. Yang jelas, menurutku nama itu terdengar lucu untuk namja sepertiku.
***
Taeyeon’s POV
5 Agustus 2007. Hari ini adalah hari debutku dan para memberku. Ya, aku telah menjadi anggota, lebih tepatnya seorang leader dari girlgroup yang bernama Girls’ Generation atau So Nyeo Shi Dae. Menurut kata Leeteuk dan Yunho oppa, menjadi leader tidaklah mudah. Apalagi jika member di groupmu tergolong banyak. Well, aku harus mengatur 8 gadis lainnya. Tapi sepertinya ini akan menjadi petualangan seru.
Penampilan pertama kami berjalan dengan sangat lancar. Kami sangat senang. Tetapi ada satu hal yang masih membuat sesuatu mengganjal perasaanku. Namja itu, namja bermata bulan sabit dan berkulit seputih dan sehalus dubu itu belum menunjukkan batang hidungnya. Kemana dia? Padahal dia sudah berjanji akan menungguku di back stage saat SNSD debut. Sahabatku, Hyoyeon menyadari keganjilan dari ekspresiku.
“Waeyo, Taeyeon-ah? Kenapa tampangmu muram seperti itu, huh?”
“Umm aniyo. Tidak ada apa-apa,” aku mengelak. Padahal sudah jelas-jelas tampangku sangat tidak enak dilihat saat ini.
“Ayolah, aku sudah menjadi sahabatmu sejak trainee. Ceritalah padaku. Ahh aku tau. Pasti kau sedang memikirkan Jinki ya? Sepertinya kau benar-benar suka padanya, Taeyeon-ah.” Hyoyeon mulai menggodaku.
“Mwoya aishh. Aku tidak menyukainya, Hyoyeon-ah. Kami hanya sahabat, tidak lebih,” oh tidak, kurasa wajahku mulai memerah.
“Jangan bohong, Taeng-ah. Aku bisa melihat dari wajahmu yang sudah seperti kepiting rebus itu. Mengaku saja jika kau memang menyukai Jinki. Lagipula dia memang namja yang baik dan memiliki pribadi yang sangat baik juga. Dia juga cocok untukmu, Taeng-ah.” Hyoyeon semakin memojokkanku.
“Yaa! Sudah kubilang aku tidak menyukai--”
“Taeyeon-ah, maaf aku terlambat,” ucapanku terpotong oleh ucapan namja bermata bulan sabit yang sudah kutunggu sejak tadi itu.
“Oh uhh hmm gwenchana. Tidak apa-apa Ondubu-ya,” kenapa aku mulai terbata-bata seperti ini, Ya Tuhan.
“Baiklah, kalau begitu. Maaf ya,” Ia masih saja merasa bersalah.
“Hmm sepertinya aku akan menyusul member lainnya. Taeng-ah, aku duluan ya. Annyeong!” Apa-apaan ini? Hyoyeon meninggalkanku? Aishh aku menjadi berdua saja dengan Onew.
“Jadi, bagaimana penampilan pertamamu?” akhirnya Onew memulai percakapan kami yang tadi sempat terhenti.
“Penampilan pertama kami berjalan dengan sangat lancar,” aku mengacungkan kedua jempolku.
“Aigoo, neomu kyeopta. Selamat ya atas penampilan pertamamu,” katanya sambil menyubit pipiku. Sial, pipiku merah lagi.
“Taeyeon-ah, pipimu merah.” katanya sambil menyentuh pipiku dan tersenyum menunjukkan mata bulan sabitnya. Astaga, sepertinya kata Hyoyeon benar. Aku mulai menyukainya.
***
Onew’s POV
25 Mei 2008. Hari ini adalah hari yang sangat kutunggu. Ya, hari dimana aku debut menjadi artis. Aku tergabung dalam sebuah boygroup bernama SHINee. Sama seperti Taeyeon, posisiku dalam group ini adalah sebagai leader. Para sunbae kami memberi banyak dukungan pada kami. Hal ini membuatku semakin percaya diri. Penampilan pertama kami menampilkan lagu “Replay” berjalan sesuai dengan yang kami harapkan. Saat di back stage, salah satu memberku, Jonghyun menangis tanpa henti. Dan ketiga memberku yang lain sibuk berbicara dengan staff dan manager hyung. Saat aku sedang mengelap keringatku, tiba-tiba aku merasakan sepasang tangan mungil memelukku dari belakang.
“Aku tidak terlambat bukan? Aku tidak akan terlambat sepertimu,”
Aku tersenyum. Aku sudah tau siapa pemilik tangan dan suara ini. Dia adalah Taeyeonku. Aku membalikkan badanku menghadap padanya dan memeluknya lagi.
“Terimakasih sudah datang tepat waktu, Taeng-ah. Kenapa kau tidak bilang padaku jika kau masih kesal, umm?” Aku melonggarkan sedikit pelukanku dan menatap matanya.
“Aku bukan kesal, aku hanya tidak sengaja saja mengingat hal itu lagi.”
“Benarkah begitu? Baiklah”
***
                Aku masih tidak mengerti dengan hubunganku dan Taeyeon. Kita tidak berpacaran, tetapi kita sangat dekat dan berperilaku bagaikan seorang pasangan yang tengah berpacaran. Jujur saja, sebenarnya aku memiliki perasaan lebih pada Taeyeon. Tapi entahlah, aku tidak tau apakah dia menyukai ku juga atau tidak. Ah iya, aku hampir lupa. Sekarang tanggal 26 Mei 2011, sehari setelah ulangtahun SHINee yang ketiga. Hari ini aku dan para member SHINee memutuskan untuk berkunjung ke dorm SNSD. Apakah kalian sudah tau jika member SHINee memiliki hubungan spesial dengan member SNSD? Benar, para member SHINee (kecuali aku) berpacaran dengan member SNSD. Jonghyun dengan Jessica, Key dengan Sooyoung, Minho dengan Yuri, dan Taemin dengan YoonA. Oke, kembali ke cerita. Seperti biasanya, saat kami tiba di dorm SNSD, yang pertama kali menyambut kami dengan hangat adalah Seohyun.
“Annyeonghaseyo!” sapa Seohyun ramah.
“Oh annyeonghaseyo, Seohyun-ah. Dimana member yang lain?” aku bertanya dengan sopan.
“Mereka sedang berada di ruang TV. Ayo silahkan masuk. Tidak enak jika mengobrol diluar,” aish, beruntung sekali SNSD bisa memiliki maknae seramah, sepintar, dan sebaik Seohyun. Dibandingkan dengan maknae kami, Taemin yang….ahh lupakan. Hal itu hanya akan membuatku emosi.
                Aku dan member yang lain pun masuk menuju ruang TV. Saat para kekasih memberku melihat kami datang, mereka langsung histeris dan saling ciuman. Aku paling benci hal ini. Lalu aku bertanya pada Seohyun dimana Taeyeon. Aku tidak melihat Taeyeonku sejak tadi.
“Seharian ini dia ada di balkon. Entah merenungkan apa. Dia tidak mau menjawab pertanyaanku,”
“Baiklah, terimakasih, Seohyun-ah,” aku menepuk pundaknya dan menuju balkon dorm SNSD. Aku melihatnya berdiri disana. Diterpa dinginnya angin malam. Aku menghampirinya dan memakaikan jaketku padanya. Ia tampak terkejut, namun Ia tersenyum saat melihatku.
“Apakah kau melihat mereka bermesraan lagi, Ondubu-ya?” Ia menatapku.
“Eung~ dan aku benci itu. Lupakan saja. Apa yang kau lakukan disini, Taeng-ah?”
“Aku hanya memikirkan sesuatu. Kurasa aku sudah siap mengatakannya sekarang, Jinki-ya.” Apa ini? mengapa Taeyeon memanggil nama asliku? Aku merasa ada sesuatu yang aneh.
“Sebulan yang lalu, eomma menelpon ku. Ia akan—” Ia terhenti sesaat. Lalu ia menunduk. Aku melihat ada bulir air mata mengaliri matanya. Tunggu, air mata?
“Ia akan menjodohkanku dengan anak rekan kerjanya. Kita akan bertunangan tahun 2013 nanti.
Seperti ada ribuan jarum yang menusuk hatiku. Aku bahkan belum sempat menyatakan perasaanku yang sebenarnya padanya. Aku memaksakan untuk tersenyum.
“Hey, mengapa kau menangis, Taeng-ah? Bukankah ini kabar bahagia? Kau akan bertunangan. Semestinya kau bahagia karena sudah mengetahui siapa yang akan menjadi pasanganmu,” aku menghapus air matanya.
“Tidak. Aku tidak bahagia dengan ini semua. Mengapa orangtuaku masih menggunakan istilah menjodohkan?! Semestinya aku yang memutuskan pasangan untuk diriku sendiri!” Tidak, ini salah. Taeyeonku menangis semakin keras. Selama ini aku baru sekali melihatnya menangis, saat hari debutnya. Tapi saat itu adalah tangis bahagia, bukan seperti saat ini.
“Tenanglah, Taeyeon-ah. Apa yang membuatmu tidak bahagia umm? Memangnya siapa namja yang ingin kau nikahi?” aku menghapus air matanya lagi.
“Aku ingin menikah dengan Lee Jinki! Aku menyukai Lee Jinki! Aku mencintai SHINee’s Onew! Aku mencintaimu! Aku mencintai Ondubu ku!” Apa? Taeyeon menyukaiku? Ia berkata Ia mencintaiku? Aku masih tidak percaya hal ini.
“Taeng-ah, kurasa kau terlalu kelelahan dan banyak berpikir. Kau tidak bisa berpikir dengan benar sampai-sampai kamu berbicara tidak benar. Ayo, aku akan mengantarmu masuk,” Aku mendorong punggungnya pelan, berniat mengajaknya masuk. Tetapi tiba-tiba,
CHU~
Taeyeon menciumku. Mencium tepat di bibirku. Aku hanya terpaku. Tak tau harus melakukan apa. Taeyeon menciumku selama kira-kira sepuluh detik.
“Apa menurutmu aku tidak bisa berpikir jernih, Ondubu-ya? Aku mencintaimu dan saat ini aku dalam keadaan sadar dan bisa berpikir jernih. Saranghaeyo, Lee Jinki,” Aku masih terpaku.
“Maaf. Aku tau jika kau tidak menyukaiku. Maaf jika aku lancang,” Ia hendak berlalu, tapi aku menarik tangannya dan menciumnya lagi.
“Nado saranghae, Kim Taeyeon,”
***

Taeyeon’s POV
                Aku dan Onew resmi berpacaran. Hari itu, aku, Onew, dan para member SHINee dan SNSD yang lain membicarakan tentang perjodohanku. Aku baru mengatakannya pada memberku hari itu. Mereka sangat terkejut. Terlebih lagi, jika aku bertunangan, bagaimana nasib karir SNSD? Akhirnya kami memutuskan sebuah rencana. Selama ini, aku belum pernah bertemu dengan calon tunanganku, Kwon Jiyong. Aku tidak memberitahu nama Jiyong kepada mereka. Entah kenapa, aku ingin merahasiakannya. Baik, kembali ke cerita. Rencanaku dan para member SHINeeShidae adalah mulai saat ini aku akan mengatakan pada eomma tentang hubunganku dengan Onew. Lalu aku akan menceritakan semua sifat baik Onew pada eomma dan aku juga akan menyuruh Onew untuk sering datang ke rumahku. Hari ini, aku akan mengenalkan Onew pada eomma dan appa. Kami duduk di meja makan. Dan sepertinya keadaan mulai canggung.
“Eomma, appa, ini Onew. Dia adalah namjachingu ku,” aku memperkenalkan Onew dengan ragu.
“Ne, annyeonghaseyo! Lee Jinki imnida. Kau bisa memanggilku Onew. Taeyeon yang memberikan panggilan itu padaku,” Onew, kau melakukannya dengan sangat baik.
“Onew? SHINee’s Onew? Beruntung sekali kita bisa kedatangan tamu yang setara dengan SHINee’s Onew,” appa tertawa.
“Ne, SHINee Onew imnida,” Onew masih berusaha ramah dan tersenyum walaupun tatapan orangtuaku mulai berbeda.
“Kami tau kau adalah namja populer, tetapi Taeyeon sudah akan bertunangan 2013 nanti dan kau harus tau itu, nak,” eomma mulai menjelaskan. Aku merasa hawa disini semakin tidak enak.
“Ne, saya sudah mengetahui hal itu dari Taeyeon. Tapi Taeyeon berkata, dia ingin berpacaran untuk me-refresh pikirannya. ”  Semua yang dikatakan Onew sudah kami rencanakan sebelumnya. Semoga berjalan sesuai rencana kita.
“Apa kau tau, Onew-ya? Itu sama saja Taeyeon hanya menjadikanmu pelampiasan. Kau pintar, tampan, dan yang pasti berbakat. Mengapa kau membuang-buang waktumu untuk berpacaran dengan Taeyeon? Masih banyak yeoja lain diluar sana yang mengincarmu. Ingatlah, sesayang apapun kau dengan Taeyeon, kau tidak akan berakhir bahagia dengannya,” kurasa eomma mulai emosi.
“Ne, saya tau. Rasa sayang saya pada Taeyeon sangat tulus sampai-sampai saya rela menjadi pelampiasannya. Saya hanya ingin membantunya.
“Kurasa kau adalah namja yang cocok dengan Taeyeon. Yeobo, mengapa kita tidak merestui hubungan mereka saja dan membatalkan perjodohan Taeyeon?”  Perkataan appa benar-benar membuatku terkejut. Appa saranghaeyo!
“Apa?! Tidak akan! Taeyeon akan bertunangan dan hal itu tidak bisa dibatalkan!” Eomma berdiri dari tempat duduknya.
“Tapi saya--“
“LEBIH BAIK KAU KELUAR DARI SINI DAN JANGAN KEMBALI LAGI!” Perkataan Onew terpotong oleh perkataan eomma yang benar-benar diluar prediksi kami. Aku tidak tau harus mengatakan apa lagi. Onew yang menoleh padaku, seperti berharap aku akan mengatakan sesuatu, hanya pasrah karena aku tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku melihatnya menunduk. Kecewa mungkin.
“Jaesunghamnida. Saya tidak akan kembali kesini lagi. Maaf telah mengganggu kalian,”
Apa?! Onew-ya! Ini bukan rencana kita! Mengapa kau menyerah? Seharusnya kau mengatakan kata-kata lain! Dan hey! Mengapa dia sekarang benar-benar berlalu dan meninggalkan rumahku?!
“Ondubu-ya! Aku ikut denganmu!” Aku hendak mengejar Onew, tetapi langkahku terhenti karena perkataan appa.
“Eomma mu benar, Taeyeon-ah. Kau akan segera bertunangan dengan Jiyong. Sebaiknya kau mendekatkan dirimu padanya, bukannya menjalin hubungan dengan namja lain. Itu akan semakin sulit untuk menumbuhkan rasa yang lebih antara kau dan Jiyong,” appa berbicara panjang lebar. Aku bahkan tidak begitu menyimak perkataannya.
“Lihat?! Bahkan appa sendiri tau bahwa aku dan Jiyong tidak saling menyukai! Mengapa kalian menjodohkanku dengannya?! Bahkan sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengannya!” Ini pertama kalinya aku sampai semarah ini.
“Biarkan aku pergi!” Ini adalah kata terakhir yang aku ucapkan pada eomma dan appa sebelum aku pergi menyusul Onew. Rupanya dia masih berdiri disamping mobilnya di halaman rumahku.
“Kau masih disini? ” Aku menghampirinya. Ia tersenyum.
“Apa kau ingin aku benar-benar pergi?” Ia terkekeh sambil mengelus pucuk kepalaku.
“Aniyo. Aku ingin kau selalu bersamaku,” kataku merajuk sambil memeluknya.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Aku mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya.
“Apa kita bisa langsung menemui tunanganmu? Katamu kalian tidak saling mencintai, mungkin dia bisa membantu kita.”
***
Onew’s POV
                    Taeyeon menyetujui rencanaku yang memutuskan untuk melibatkan tunangannya dalam rencana kami. Tapi, sampai sekarang aku belum tau siapa nama tunangannya. Setiap aku bertanya pada Taeyeon, dia selalu mengulur-ulur waktu dan pada akhirnya mengalihkan pembicaraan dan tidak memberitahuku. Sudahlah, nama tidaklah penting. Oke, sekarang kita sedang berada di cafe –tempat aku, Taeyeon, dan tunangannya akan bertemu.
“Annyeonghaseyo, Taeyeon-ah ! Maaf aku terlambat ne.” Tunggu, sepertinya aku pernah melihat namja ini sebelumnya.
“Jadi apakah ini namjachingu mu?” Dia menunjuk kearahku.
“Iya. Dia adalah namjachingu ku, Jiyong-ah. Ayo duduk.”
“Jiyong ?!?!?!?!” mereka berdua menatapku dengan terkejut. Untung saja tidak banyak orang yang berkunjung ke café ini. Jadi tidak banyak orang yang menatap aneh padaku.
“Ne, saya Jiyong. Ada apa?” dia masih menatapku dengan heran.
“Jiyong-ah! Aku Jinki! Apa kau mengingatku?” ya, akhirnya aku ingat. Jiyong adalah teman SMA ku dulu.
“Jinki?” Ia tampak mengingat-ingat. Ayolah, kau harus ingat padaku! Kau sering mencontekku dulu. Hahaha.
“OOOHHH JINKI-YA!!! APAKAH INI BENAR-BENAR KAU? ASTAGA KAU SANGAT TAMPAN!” Jiyong menepuk-nepuk pipiku.
“Iya, ini aku. Akhirnya kau mengingatku juga tukang menyontek!” kita berdua tertawa. Tidak dengan Taeyeon. Dia memandang kita dengan wajah terkejut.
“Ja..jadi kalian sudah saling kenal?” Dia menunjukku dan Jiyong bergantian.
“Tentu saja! Dia adalah teman SMA ku dulu, Taeyeon-ah. Waa jinjja, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi, Jinki-ah,” Jiyong terus saja memelukku. Jujur, sebenarnya aku agak risih dipeluk-peluk oleh seorang namja. Tapi tak apalah, aku bisa maklum. Dia sudah lama tidak melihatku yang makin tampan ini, hahaha.
“Oke, jadi sebenarnya apa tujuan kalian mengundangku kesini?” dengan masih tersenyum, Jiyong duduk disalah satu kursi di sebelah Taeyeon.
“Hmm jadi begini, kita akan bertunangan tahun 2013 nanti. Tapi kita, hmm.. tidak saling..hmm mencintai. Apakah kau tidak pernah berpikir untuk kabur dari pertunangan kita?” Taeyeon semakin serius menatap Jiyong. Aku hanya diam saja –berbicara jika perlu.
“Aku memang sempat memikirkan hal itu sebelumnya. Tapi bukankah itu mustahil? Mengingat eomma dan appa mu yang agak keras kepala,” Jiyong tampak ragu. Aku mengerti dengan maksud ‘keras kepala’ yang disebut Jiyong. Aku sudah melihatnya sendiri.
“Memang agak mustahil untuk melakukannya. Tapi aku sangat ingin lepas dari semua kekacauan ini. Jiyong-ssi, kau mau kan membantuku dan Onew?” wajah taeyeon tampak penuh harap. Dan aku yakin, wajahku pun begitu.
“Aku punya ide. Bagaimana kalau saat hari pertunangan kita nanti, kita merekayasa sebuah kecelakaan? Nanti aku akan meminta temanku untuk pura-pura akan menabrak Taeyeon dengan mobilnya. Lalu Jinki datang menyelamatkan Taeyeon, dan aku hanya akan diam seolah-olah hal itu tidak penting. Bagaimana?” tidak, usul ini terlihat terlalu gila, Jiyong.
“Tidak, menurutku ini terlalu gila. Idemu bisa membahayakan Taeyeon jika aku gagal menyelamatkannya. Selain itu, kau juga bisa dibenci oleh banyak orang karena kau biasa saja saat calon tunanganmu hampir tertabrak mobil.” yang aku katakan benar kan? Selain bahaya untuk Taeyeon, dia juga bisa dibenci oleh banyak orang, terutama keluarga Taeyeon.
“Tidak apa-apa, Ondubu-ya. Menurutku ini ide yang bagus. Keluargaku akan menyukaimu karena kau telah menyelamatkanku.” Taeyeon membujukku untuk menyetujui ide Jiyong.
“Baiklah.”
***
Author’s POV
                14 Februari 2013. Hari ini Taeyeon akan resmi menjadi tunangan Jiyong. Tapi tidak jika rencana Jiyong berhasil. Proses pertunangan Taeyeon dan Jiyong dilaksanakan secara outdoor atau diluar ruangan. Jadi hal ini akan memudahkan teman Jiyong –Seungri untuk melaksanakan tugasnya. Proses pertunanganpun dilaksanakan. Saat mereka akan berfoto, tiba-tiba mobil yang dikendarai oleh Seungri pun melaju dengan cepat kearah Taeyeon. Tentu saja hal ini sudah direncanakan dengan matang sebelumnya. Jiyong hanya berlari untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Lalu Jinki pun tiba dan langsung menarik Taeyeon agar dia tidak tertabrak. Orang-orang yang melihatnya pun hanya terpaku –shock.
“Jiyong-ah! Mengapa kau tidak menyelamatkan Taeyeon dan justru menyelamatkan dirimu sendiri?! Tunangan macam apa kau ini!” eomma Taeyeon mulai menyemprotkan kata-katanya pada Jiyong.
“Untuk apa aku menyelamatkan Taeyeon? Aku hanya perlu menyelamatkan diriku sendiri! Jika aku mati, siapa yang akan melanjutkan bisnis appa ku?” eomma Taeyeon terkejut mendengar jawaban Jiyong. Dengan tiba-tiba, eomma Taeyeon menampar pipi Jiyong.
“Jangan sekali-sekali kau coba untuk menunjukkan wajahmu dihadapanku lagi! Aku mengumumkan kepada seluruh undangan yang datang hari ini, PERTUNANGAN INI DIBATALKAN!” semua undangan terkejut mendengar ucapan eomma Taeyeon. Banyak yang menatap sinis pada Jiyong, bahkan ada juga yang berbisik-bisik secara terang-terangan.
“Taeyeon! Ayo masuk! Bawa namjachingu mu juga!” eomma Taeyeon berjalan mendahului Taeyeon dan Jinki. Lalu mereka duduk di ruang tamu dengan posisi Jinki dan Taeyeon menghadap kearah eomma Taeyeon.
“Kau namjachingu Taeyeon yang sempat kuusir dulu kan?” eomma Taeyeon mulai berbicara.
“Ne, saya namjachingu Taeyeon yang pernah anda usir.” Jinki hanya menatap eomma Taeyeon sekilas. Takut mungkin.
“Siapa namamu, Nak? Aku lupa.”
“Lee Jinki. Lee Jinki imnida. Tapi kau bisa memanggilku Onew.” Onew berusaha tersenyum ramah pada eomma Taeyeon. Taeyeon yang melihatnya pun ikut tersenyum. Ia tidak salah memilih. Jinki yang sudah pernah diusir oleh eomma-nya secara langsung itu masih bisa tersenyum dengan ramah. Jinki memang namja yang baik.
“Ah lebih baik kupanggil kau Jinki saja. Jinki-ya, maafkan aku sebelumnya. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kau adalah namja yang tepat untuk Taeyeon kami. Aku menyesal sekali karena pernah meneriaki mu dan mengusirmu.” Eomma Taeyeon mulai berkaca-kaca.
“Ne, anda tidak perlu meminta maaf, Nyonya Kim. Saya rasa saya memang patut anda usir saat itu. Jinki tetap saja tersenyum. Eomma Taeyeon yang melihatnya pun akhirnya menangis.
“Terimakasih, Jinki-ya. Terimakasih banyak karena kau telah menyelamatkan Taeyeon kami. Terimakasih. Mulai sekarang kau bisa memanggilku dan appa Taeyeon dengan sebutan eomma dan appa.” Eomma Taeyeon berkata sambil tersenyum kearah Jinki dan berdiri lalu memeluknya. Jinki dan Taeyeon yang terkejutpun hanya bisa memandang kearah satu sama lain.
“Maksud eomma, aku dan Jinki—”
“Ya, aku mengijinkan kalian untuk menikah.” Eomma Taeyeon kembali tersenyum. Taeyeon dan Jinki terkejut, namun akhirnya memeluk satu sama lain. Lalu Jinki pun mengecup bibir Taeyeon lembut.
***
Onew’s POV
                Aku dan Taeyeon akhirnya menikah. Hari ini sudah 2 tahun setelah pernikahan kita. Kita juga memiliki seorang bayi perempuan yang sangat lucu dan cantik. Hmm, tentang hubungan kami dan Jiyong? Kami baik-baik saja. Sekarang Jiyong juga sudah mempunyai istri. Namanya Sandara Park. Oh dan karirku dengan SHINee? Bagaimana dengan SNSD? Tenang saja, karir kami masih berjalan dengan lancar. Para fans kami pun menerima hubungan kami dengan baik. Ya, pada intinya, cinta hanya berawal dari hal kecil. Bertemu di taman adalah salah satu contohnya.

END.

Okay, ini fanfic pertama saya. Jadi maaf kalau kurang puas dan kurang menohok (?) hati kalian.
Maaf juga kalo ga nyambung sama judulnya._.v
Please comment^^

No comments:

Post a Comment