Tittle : Love Started From A
Little Thing
Author : Hwang Ri Tae
Main cast : Lee Jinki aka SHINee’s Onew
and SNSD’s Kim Taeyeon
Support cast : - other
SHINee and SNSD members
-
Kwon Jiyong
-
Seungri Lee
Genre : Romance
P.S : This is
my very first fanfic. I’m sorry if it’s not that good or enjoyable for you
guys. Please comment^^
All the things I created in this ff is
totally not real. I mean, it was only from my imagination. So pls
don’t
think that it’s real if I said some bad things about SM.
Thanks
Ini fanfic saya yang
paling pertama. Maaf kalau tidak sebagus itu dan dapat dinikmati dengan baik
oleh kalian. Harap
komentar^^
Semua yang saya buat di
ff ini benar-benar tidak nyata, semuanya dari imajinasi saya. Jadi jangan
berpikir itu benar jika
saya mengatakan beberapa kata buruk tentang SM
Thanks
***
Onew’s POV
Namaku adalah
Lee Jinki. Aku adalah seorang pria muda yang berasal dari keluarga yang –bisa
dibilang cukup kaya. Aku mengikuti audisi yang diadakan SM Entertainment saat
aku masih duduk di bangku SMA dulu. Saat aku mengikuti audisi itu, aku sama
sekali tidak pernah menyangka akan lolos audisi. Mengingat sainganku yang cukup
berat saat itu. Aku sangat bahagia saat mengetahui aku lolos audisi tersebut.
Yang ada dipikiranku saat itu hanya satu. “Aku tak akan menyusahkan orang tuaku
lagi”. Tapi semua kebahagiaanku itu lenyap saat aku merasakan rasanya menjadi
trainee di agensi terbesar di Korea Selatan ini. Mereka melatihku –dan para
trainee yang lain dengan sangat keras. Kami tau bahwa yang mereka lakukan
adalah hal yang penting bagi karir kita saat debut nanti. Tapi bayangkan,
apakah kalian akan bertahan jika kalian menjadi trainee selama kira-kira lima
tahun kalian akan mendapat tindak kekerasan jika kalian melakukan sedikit saja
kesalahan saat latihan? Ya, benar. Aku dan para trainee lainnya merasakan hal
itu. Trainer (pelatih) kami tidak akan segan menendang kaki kami jika kami
salah melakukan gerakan dance. Mereka akan menampar kami jika kami melakukan crack saat kami latihan menyanyi. Itu
semua menyakitkan. Walaupun para sunbae kami yang telah debut –seperti TVXQ,
Super Junior, dan lainnya telah memberikan semangat dan nasehat-nasehat untuk
menguatkan kami, tetap saja. Bahkan sudah ada beberapa trainee yang kabur
bahkan sampai bunuh diri karena tidak tahan. Untungnya, aku tidak melakukannya.
Jika aku melakukannya, aku tidak akan menjadi SHINee’s leader Onew seperti
sekarang. Tetapi tentu saja aku pernah kabur. Saat itu aku sudah benar-benar depresi.
Aku sudah tidak tahan dengan hal yang tidak berperikemanusiaan yang dilakukan
trainer kami. Akhirnya aku memutuskan untuk kabur. Aku pergi ke taman kota
dengan masih menggunakan baju latihan (jaket sederhana dan celana training).
Saat itulah pertama kali aku melihatnya. Ya, gadis yang sampai saat ini aku
cintai. Dia Kim Taeyeon. Dia menghampiriku saat aku duduk di bangku taman yang
terletak di pinggir taman yang sudah mulai sepi itu. Dia duduk disampingku.
“Apa yang membuatmu memutuskan
untuk kabur, Jinki-ssi?”
Aku menoleh. Awalnya aku tak mengenalinya, tapi saat aku mengingat lagi,
akhirnya aku mengingatnya. Dia adalah Kim Taeyeon, sahabat dari teman sesama
traineeku, Kim Hyoyeon. Aku hanya tersenyum.
“Aku merasa sudah tidak mampu,
Taeyeon-ssi. Aku sudah tidak tahan untuk bertahan dalam agensi sialan
itu.”
Dia tertawa. Oh Tuhan, cantik sekali dia. Bagaimana bisa aku baru menyadarinya sekarang?
“Rupanya pemikiran kita sama.
Tetapi aku akhirnya sadar. Untuk apa kita kabur? Jika kita merasa tidak mampu,
bagaimana bisa kita bertahan dalam agensi sialan itu selama kurang lebih tiga
tahun? Sebaiknya kau kembali, Jinki-ssi. Semua penderitaan ini akan berakhir
jika kita telah debut. ”
Aku berpikir keras. Ada benarnya juga perkataan Taeyeon. Akan sangat sia-sia
sekali jika aku menyerah begitu saja. Sia-sia semua perjuanganku selama ini.
“Tapi belum tentu kita akan debut,” aku tetap mengelak.
“Kita memang tidak tau. Tetapi walaupun kita tidak akan debut nanti, aku
yakin setelah kita keluar dari agensi itu, kita akan menjadi pribadi yang lebih
baik dan berbakat. Tidak akan ada yang sia-sia selama hal yang kita lakukan
adalah hal baik,”
Aku masih berpikir, apakah aku akan kembali atau tidak. Taeyeon tersenyum lagi,
“Nah, Jinki-ssi. Langit sudah
mulai gelap. Sebaiknya kita kembali ke SM Building,” Setelah menimang-nimang,
akhirnya aku memutuskan untuk kembali.
Semenjak hari itu, aku dan Taeyeon
semakin dekat. Kami sering menyapa dan membungkukkan badan jika bertemu. Bahkan
kami sudah tidak menggunakan embel-embel “-ssi” lagi sekarang. Dia memanggilku
“Ondubu” atau “Onew”. Dia memanggilku dubu
(tahu) karena menurutnya aku memiliki kulit yang putih dan halus seperti
dubu. Hahaha, ada-ada saja. Lalu Onew? Entahlah, aku juga tak tau mengapa dia
memanggilku seperti itu. Yang jelas, menurutku nama itu terdengar lucu untuk
namja sepertiku.
***
Taeyeon’s POV
5 Agustus 2007. Hari ini adalah
hari debutku dan para memberku. Ya, aku telah menjadi anggota, lebih tepatnya
seorang leader dari girlgroup yang bernama Girls’ Generation atau So Nyeo Shi
Dae. Menurut kata Leeteuk dan Yunho oppa, menjadi leader tidaklah mudah.
Apalagi jika member di groupmu tergolong banyak. Well, aku harus mengatur 8
gadis lainnya. Tapi sepertinya ini akan menjadi petualangan seru.
Penampilan pertama kami berjalan
dengan sangat lancar. Kami sangat senang. Tetapi ada satu hal yang masih
membuat sesuatu mengganjal perasaanku. Namja itu, namja bermata bulan sabit dan
berkulit seputih dan sehalus dubu itu belum menunjukkan batang hidungnya.
Kemana dia? Padahal dia sudah berjanji akan menungguku di back stage saat SNSD
debut. Sahabatku, Hyoyeon menyadari keganjilan dari ekspresiku.
“Waeyo,
Taeyeon-ah? Kenapa tampangmu muram seperti itu, huh?”
“Umm
aniyo. Tidak ada apa-apa,” aku mengelak. Padahal sudah jelas-jelas tampangku
sangat tidak enak dilihat saat ini.
“Ayolah, aku sudah menjadi sahabatmu sejak trainee.
Ceritalah padaku. Ahh aku tau. Pasti kau sedang memikirkan Jinki ya? Sepertinya
kau benar-benar suka padanya, Taeyeon-ah.” Hyoyeon mulai menggodaku.
“Mwoya aishh. Aku tidak menyukainya, Hyoyeon-ah.
Kami hanya sahabat, tidak lebih,” oh tidak, kurasa wajahku mulai memerah.
“Jangan bohong, Taeng-ah. Aku bisa melihat dari
wajahmu yang sudah seperti kepiting rebus itu. Mengaku saja jika kau memang
menyukai Jinki. Lagipula dia memang namja yang baik dan memiliki pribadi yang
sangat baik juga. Dia juga cocok untukmu, Taeng-ah.” Hyoyeon semakin
memojokkanku.
“Yaa! Sudah kubilang aku tidak menyukai--”
“Taeyeon-ah, maaf aku terlambat,” ucapanku terpotong
oleh ucapan namja bermata bulan sabit yang sudah kutunggu sejak tadi itu.
“Oh uhh hmm gwenchana. Tidak apa-apa Ondubu-ya,”
kenapa aku mulai terbata-bata seperti ini, Ya Tuhan.
“Baiklah, kalau begitu. Maaf ya,” Ia masih saja
merasa bersalah.
“Hmm sepertinya aku akan menyusul member lainnya.
Taeng-ah, aku duluan ya. Annyeong!” Apa-apaan ini? Hyoyeon meninggalkanku?
Aishh aku menjadi berdua saja dengan Onew.
“Jadi, bagaimana penampilan pertamamu?” akhirnya
Onew memulai percakapan kami yang tadi sempat terhenti.
“Penampilan pertama kami berjalan dengan sangat
lancar,” aku mengacungkan kedua jempolku.
“Aigoo, neomu kyeopta. Selamat ya atas penampilan pertamamu,” katanya
sambil menyubit pipiku. Sial, pipiku merah lagi.
“Taeyeon-ah,
pipimu merah.” katanya sambil menyentuh pipiku dan tersenyum menunjukkan mata
bulan sabitnya. Astaga, sepertinya kata Hyoyeon benar. Aku mulai menyukainya.
***
Onew’s
POV
25 Mei
2008. Hari ini adalah hari yang sangat kutunggu. Ya, hari dimana aku debut
menjadi artis. Aku tergabung dalam sebuah boygroup bernama SHINee. Sama
seperti Taeyeon, posisiku dalam group ini adalah sebagai leader. Para sunbae
kami memberi banyak dukungan pada kami. Hal ini membuatku semakin percaya diri.
Penampilan pertama kami menampilkan lagu “Replay” berjalan sesuai dengan yang
kami harapkan. Saat di back stage, salah satu memberku, Jonghyun menangis tanpa
henti. Dan ketiga memberku yang lain sibuk berbicara dengan staff dan manager
hyung. Saat aku sedang mengelap keringatku, tiba-tiba aku merasakan sepasang
tangan mungil memelukku dari belakang.
“Aku tidak terlambat bukan? Aku tidak akan
terlambat sepertimu,”
Aku
tersenyum. Aku sudah tau siapa pemilik tangan dan suara ini. Dia adalah
Taeyeonku. Aku membalikkan badanku menghadap padanya dan memeluknya lagi.
“Terimakasih sudah datang tepat waktu, Taeng-ah.
Kenapa kau tidak bilang padaku jika kau masih kesal, umm?” Aku melonggarkan
sedikit pelukanku dan menatap matanya.
“Aku bukan kesal, aku hanya tidak sengaja saja
mengingat hal itu lagi.”
“Benarkah begitu? Baiklah”
***
Aku
masih tidak mengerti dengan hubunganku dan Taeyeon. Kita tidak berpacaran,
tetapi kita sangat dekat dan berperilaku bagaikan seorang pasangan yang tengah
berpacaran. Jujur saja, sebenarnya aku memiliki perasaan lebih pada Taeyeon.
Tapi entahlah, aku tidak tau apakah dia menyukai ku juga atau tidak. Ah iya,
aku hampir lupa. Sekarang tanggal 26 Mei 2011, sehari setelah ulangtahun SHINee
yang ketiga. Hari ini aku dan para member SHINee memutuskan untuk berkunjung ke
dorm SNSD. Apakah kalian sudah tau jika member SHINee memiliki hubungan spesial
dengan member SNSD? Benar, para member SHINee (kecuali aku) berpacaran dengan
member SNSD. Jonghyun dengan Jessica, Key dengan Sooyoung, Minho dengan Yuri,
dan Taemin dengan YoonA. Oke, kembali ke cerita. Seperti biasanya, saat kami
tiba di dorm SNSD, yang pertama kali menyambut kami dengan hangat adalah
Seohyun.
“Annyeonghaseyo!” sapa Seohyun ramah.
“Oh annyeonghaseyo, Seohyun-ah. Dimana member yang
lain?” aku bertanya dengan sopan.
“Mereka sedang berada di ruang TV. Ayo silahkan
masuk. Tidak enak jika mengobrol diluar,” aish, beruntung sekali SNSD bisa
memiliki maknae seramah, sepintar, dan sebaik Seohyun. Dibandingkan dengan
maknae kami, Taemin yang….ahh lupakan. Hal itu hanya akan membuatku emosi.
Aku
dan member yang lain pun masuk menuju ruang TV. Saat para kekasih memberku
melihat kami datang, mereka langsung histeris dan saling ciuman. Aku paling
benci hal ini. Lalu aku bertanya pada Seohyun dimana Taeyeon. Aku tidak melihat
Taeyeonku sejak tadi.
“Seharian ini dia ada di balkon. Entah merenungkan
apa. Dia tidak mau menjawab pertanyaanku,”
“Baiklah, terimakasih, Seohyun-ah,” aku menepuk
pundaknya dan menuju balkon dorm SNSD. Aku melihatnya berdiri disana. Diterpa
dinginnya angin malam. Aku menghampirinya dan memakaikan jaketku padanya. Ia
tampak terkejut, namun Ia tersenyum saat melihatku.
“Apakah kau melihat mereka bermesraan lagi,
Ondubu-ya?” Ia menatapku.
“Eung~
dan aku benci itu. Lupakan saja. Apa yang kau lakukan disini, Taeng-ah?”
“Aku
hanya memikirkan sesuatu. Kurasa aku sudah siap mengatakannya sekarang,
Jinki-ya.” Apa ini? mengapa Taeyeon memanggil nama asliku? Aku merasa ada
sesuatu yang aneh.
“Sebulan
yang lalu, eomma menelpon ku. Ia akan—” Ia terhenti sesaat. Lalu ia menunduk.
Aku melihat ada bulir air mata mengaliri matanya. Tunggu, air mata?
“Ia akan menjodohkanku dengan anak rekan kerjanya. Kita
akan bertunangan tahun 2013 nanti.”
Seperti ada ribuan jarum yang menusuk hatiku. Aku
bahkan belum sempat menyatakan perasaanku yang sebenarnya padanya. Aku
memaksakan untuk tersenyum.
“Hey, mengapa kau menangis, Taeng-ah? Bukankah ini
kabar bahagia? Kau akan bertunangan. Semestinya kau bahagia karena sudah
mengetahui siapa yang akan menjadi pasanganmu,” aku menghapus air matanya.
“Tidak. Aku tidak bahagia dengan ini semua. Mengapa
orangtuaku masih menggunakan istilah menjodohkan?! Semestinya aku yang
memutuskan pasangan untuk diriku sendiri!” Tidak, ini salah. Taeyeonku menangis
semakin keras. Selama ini aku baru
sekali melihatnya menangis, saat hari debutnya. Tapi saat itu adalah
tangis bahagia, bukan seperti saat ini.
“Tenanglah, Taeyeon-ah. Apa yang membuatmu tidak
bahagia umm? Memangnya siapa namja yang ingin kau nikahi?” aku menghapus air
matanya lagi.
“Aku ingin menikah dengan Lee Jinki! Aku menyukai
Lee Jinki! Aku mencintai SHINee’s Onew! Aku mencintaimu! Aku mencintai Ondubu
ku!” Apa? Taeyeon menyukaiku? Ia berkata Ia mencintaiku? Aku masih tidak
percaya hal ini.
“Taeng-ah, kurasa kau terlalu kelelahan dan banyak
berpikir. Kau tidak bisa berpikir dengan benar sampai-sampai kamu berbicara
tidak benar. Ayo, aku akan mengantarmu masuk,” Aku mendorong punggungnya pelan,
berniat mengajaknya masuk. Tetapi tiba-tiba,
CHU~
Taeyeon menciumku. Mencium tepat di bibirku. Aku
hanya terpaku. Tak tau harus melakukan apa. Taeyeon menciumku selama kira-kira
sepuluh detik.
“Apa menurutmu aku tidak bisa berpikir jernih,
Ondubu-ya? Aku mencintaimu dan saat ini aku dalam keadaan sadar dan bisa
berpikir jernih. Saranghaeyo, Lee Jinki,” Aku masih terpaku.
“Maaf. Aku tau jika kau tidak menyukaiku. Maaf jika
aku lancang,” Ia hendak berlalu, tapi aku menarik tangannya dan menciumnya
lagi.
“Nado saranghae, Kim Taeyeon,”
***
Taeyeon’s POV
Aku
dan Onew resmi berpacaran. Hari itu, aku, Onew, dan para member SHINee dan SNSD
yang lain membicarakan tentang perjodohanku. Aku baru mengatakannya pada
memberku hari itu. Mereka sangat terkejut. Terlebih lagi, jika aku bertunangan,
bagaimana nasib karir SNSD? Akhirnya kami memutuskan sebuah rencana. Selama ini, aku belum pernah bertemu
dengan calon tunanganku, Kwon Jiyong. Aku tidak memberitahu nama Jiyong kepada
mereka. Entah kenapa, aku ingin merahasiakannya. Baik, kembali ke cerita.
Rencanaku dan para member SHINeeShidae adalah mulai saat ini aku akan
mengatakan pada eomma tentang hubunganku dengan Onew. Lalu aku akan
menceritakan semua sifat baik Onew pada eomma dan aku juga akan menyuruh Onew
untuk sering datang ke rumahku. Hari ini, aku akan mengenalkan Onew pada eomma
dan appa. Kami duduk di meja makan. Dan sepertinya keadaan mulai
canggung.
“Eomma, appa, ini Onew. Dia adalah namjachingu ku,”
aku memperkenalkan Onew dengan ragu.
“Ne, annyeonghaseyo! Lee Jinki imnida. Kau bisa
memanggilku Onew. Taeyeon yang memberikan panggilan itu padaku,” Onew, kau
melakukannya dengan sangat baik.
“Onew? SHINee’s Onew? Beruntung sekali kita bisa
kedatangan tamu yang setara dengan SHINee’s Onew,” appa tertawa.
“Ne, SHINee Onew imnida,” Onew masih berusaha ramah
dan tersenyum walaupun tatapan orangtuaku mulai berbeda.
“Kami tau kau adalah namja populer, tetapi Taeyeon
sudah akan bertunangan 2013 nanti dan kau harus tau itu, nak,” eomma mulai menjelaskan.
Aku merasa hawa disini semakin tidak
enak.
“Ne,
saya sudah mengetahui hal itu dari Taeyeon. Tapi Taeyeon berkata, dia
ingin berpacaran untuk me-refresh pikirannya. ” Semua yang dikatakan Onew sudah kami rencanakan
sebelumnya. Semoga berjalan sesuai rencana kita.
“Apa kau
tau, Onew-ya? Itu sama saja Taeyeon hanya menjadikanmu pelampiasan. Kau pintar,
tampan, dan yang pasti berbakat. Mengapa kau membuang-buang waktumu untuk
berpacaran dengan Taeyeon? Masih banyak yeoja lain diluar sana yang mengincarmu.
Ingatlah, sesayang apapun kau dengan Taeyeon, kau tidak akan berakhir bahagia
dengannya,” kurasa eomma mulai emosi.
“Ne,
saya tau. Rasa sayang saya pada Taeyeon sangat tulus sampai-sampai saya rela
menjadi pelampiasannya. Saya hanya ingin membantunya.”
“Kurasa kau adalah namja yang cocok dengan Taeyeon.
Yeobo, mengapa kita tidak merestui hubungan mereka saja dan membatalkan
perjodohan Taeyeon?” Perkataan appa
benar-benar membuatku terkejut. Appa saranghaeyo!
“Apa?! Tidak akan! Taeyeon akan bertunangan dan hal
itu tidak bisa dibatalkan!” Eomma berdiri dari tempat duduknya.
“Tapi saya--“
“LEBIH
BAIK KAU KELUAR DARI SINI DAN JANGAN KEMBALI LAGI!” Perkataan Onew
terpotong oleh perkataan eomma yang benar-benar diluar prediksi kami. Aku tidak
tau harus mengatakan apa lagi. Onew yang menoleh padaku, seperti berharap aku
akan mengatakan sesuatu, hanya pasrah karena aku tidak mengeluarkan sepatah
kata pun. Aku melihatnya menunduk. Kecewa mungkin.
“Jaesunghamnida. Saya tidak akan kembali kesini
lagi. Maaf telah mengganggu kalian,”
Apa?! Onew-ya! Ini bukan rencana kita! Mengapa kau
menyerah? Seharusnya kau mengatakan kata-kata lain! Dan hey! Mengapa dia
sekarang benar-benar berlalu dan meninggalkan rumahku?!
“Ondubu-ya! Aku ikut denganmu!” Aku hendak mengejar
Onew, tetapi langkahku terhenti karena perkataan appa.
“Eomma mu benar, Taeyeon-ah. Kau akan segera
bertunangan dengan Jiyong. Sebaiknya kau mendekatkan dirimu padanya, bukannya
menjalin hubungan dengan namja lain. Itu akan semakin sulit untuk menumbuhkan
rasa yang lebih antara kau dan Jiyong,” appa berbicara panjang lebar. Aku
bahkan tidak begitu menyimak perkataannya.
“Lihat?! Bahkan appa sendiri tau bahwa aku dan
Jiyong tidak saling menyukai! Mengapa kalian menjodohkanku dengannya?! Bahkan
sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengannya!” Ini pertama kalinya aku sampai semarah ini.
“Biarkan
aku pergi!” Ini adalah kata terakhir yang aku ucapkan pada eomma dan appa
sebelum aku pergi menyusul Onew. Rupanya dia masih berdiri disamping mobilnya
di halaman rumahku.
“Kau
masih disini? ” Aku menghampirinya. Ia tersenyum.
“Apa kau
ingin aku benar-benar pergi?” Ia terkekeh sambil mengelus pucuk kepalaku.
“Aniyo. Aku ingin kau selalu bersamaku,” kataku
merajuk sambil memeluknya.
“Apa yang harus kita lakukan sekarang?” Aku
mengangkat kepalaku untuk melihat wajahnya.
“Apa
kita bisa langsung menemui tunanganmu? Katamu kalian tidak saling
mencintai, mungkin dia bisa membantu kita.”
***
Onew’s POV
Taeyeon
menyetujui rencanaku yang memutuskan untuk melibatkan tunangannya dalam rencana
kami. Tapi, sampai sekarang aku belum tau siapa nama tunangannya. Setiap aku
bertanya pada Taeyeon, dia selalu mengulur-ulur waktu dan pada akhirnya
mengalihkan pembicaraan dan tidak memberitahuku. Sudahlah, nama tidaklah
penting. Oke, sekarang kita sedang berada di cafe –tempat aku, Taeyeon, dan
tunangannya akan bertemu.
“Annyeonghaseyo, Taeyeon-ah ! Maaf aku
terlambat ne.” Tunggu, sepertinya aku pernah melihat namja ini sebelumnya.
“Jadi
apakah ini namjachingu mu?” Dia menunjuk kearahku.
“Iya. Dia adalah namjachingu ku, Jiyong-ah. Ayo
duduk.”
“Jiyong ?!?!?!?!” mereka berdua menatapku
dengan terkejut. Untung saja tidak banyak orang yang berkunjung ke café ini.
Jadi tidak banyak orang yang menatap aneh padaku.
“Ne, saya Jiyong. Ada apa?” dia masih menatapku
dengan heran.
“Jiyong-ah! Aku Jinki! Apa kau mengingatku?” ya,
akhirnya aku ingat. Jiyong adalah teman SMA ku dulu.
“Jinki?” Ia tampak mengingat-ingat. Ayolah, kau harus ingat padaku! Kau sering
mencontekku dulu. Hahaha.
“OOOHHH
JINKI-YA!!! APAKAH INI BENAR-BENAR KAU? ASTAGA KAU SANGAT TAMPAN!” Jiyong
menepuk-nepuk pipiku.
“Iya,
ini aku. Akhirnya kau mengingatku juga tukang menyontek!” kita berdua tertawa. Tidak
dengan Taeyeon. Dia memandang kita dengan wajah terkejut.
“Ja..jadi kalian sudah saling kenal?” Dia menunjukku
dan Jiyong bergantian.
“Tentu saja! Dia adalah teman SMA ku dulu,
Taeyeon-ah. Waa jinjja, aku tidak menyangka akan bertemu denganmu lagi,
Jinki-ah,” Jiyong terus saja memelukku. Jujur, sebenarnya aku agak risih
dipeluk-peluk oleh seorang namja. Tapi tak apalah, aku bisa maklum. Dia sudah
lama tidak melihatku yang makin tampan ini, hahaha.
“Oke, jadi sebenarnya apa tujuan kalian
mengundangku kesini?” dengan masih tersenyum, Jiyong duduk disalah satu kursi
di sebelah Taeyeon.
“Hmm jadi begini, kita akan bertunangan tahun 2013
nanti. Tapi kita, hmm.. tidak saling..hmm mencintai. Apakah kau tidak pernah
berpikir untuk kabur dari pertunangan kita?” Taeyeon semakin serius menatap
Jiyong. Aku hanya diam saja –berbicara jika perlu.
“Aku memang sempat memikirkan hal itu sebelumnya.
Tapi bukankah itu mustahil? Mengingat eomma dan appa mu yang agak keras
kepala,” Jiyong tampak ragu. Aku mengerti dengan maksud ‘keras kepala’ yang
disebut Jiyong. Aku sudah melihatnya sendiri.
“Memang agak mustahil untuk melakukannya. Tapi aku sangat ingin lepas dari semua
kekacauan ini. Jiyong-ssi, kau mau kan membantuku dan Onew?” wajah
taeyeon tampak penuh harap. Dan aku yakin, wajahku pun begitu.
“Aku punya ide. Bagaimana kalau saat hari
pertunangan kita nanti, kita merekayasa sebuah kecelakaan? Nanti aku akan
meminta temanku untuk pura-pura akan menabrak Taeyeon dengan mobilnya. Lalu
Jinki datang menyelamatkan Taeyeon, dan aku hanya akan diam seolah-olah hal itu
tidak penting. Bagaimana?” tidak, usul ini terlihat terlalu gila, Jiyong.
“Tidak, menurutku ini terlalu gila. Idemu bisa
membahayakan Taeyeon jika aku gagal menyelamatkannya. Selain itu, kau juga bisa
dibenci oleh banyak orang karena kau biasa saja saat calon tunanganmu hampir tertabrak
mobil.” yang aku katakan benar kan? Selain bahaya untuk Taeyeon, dia juga bisa
dibenci oleh banyak orang, terutama keluarga Taeyeon.
“Tidak apa-apa, Ondubu-ya. Menurutku ini ide yang
bagus. Keluargaku akan menyukaimu karena kau telah menyelamatkanku.” Taeyeon
membujukku untuk menyetujui ide Jiyong.
“Baiklah.”
***
Author’s POV
14
Februari 2013. Hari ini Taeyeon akan
resmi menjadi tunangan Jiyong. Tapi tidak jika rencana Jiyong berhasil. Proses
pertunangan Taeyeon dan Jiyong dilaksanakan secara outdoor atau diluar ruangan. Jadi hal ini akan memudahkan teman
Jiyong –Seungri untuk melaksanakan tugasnya. Proses pertunanganpun
dilaksanakan. Saat mereka akan berfoto, tiba-tiba mobil yang dikendarai oleh
Seungri pun melaju dengan cepat kearah Taeyeon. Tentu saja hal ini sudah
direncanakan dengan matang sebelumnya. Jiyong hanya berlari untuk menyelamatkan
dirinya sendiri. Lalu Jinki pun tiba dan langsung menarik Taeyeon agar
dia tidak tertabrak. Orang-orang yang melihatnya pun hanya terpaku –shock.
“Jiyong-ah! Mengapa kau tidak menyelamatkan Taeyeon dan justru menyelamatkan dirimu
sendiri?! Tunangan macam apa kau ini!” eomma Taeyeon mulai menyemprotkan
kata-katanya pada Jiyong.
“Untuk apa aku menyelamatkan Taeyeon? Aku hanya perlu menyelamatkan diriku
sendiri! Jika aku mati, siapa yang akan melanjutkan bisnis appa ku?” eomma
Taeyeon terkejut mendengar jawaban Jiyong. Dengan tiba-tiba, eomma Taeyeon
menampar pipi Jiyong.
“Jangan
sekali-sekali kau coba untuk menunjukkan wajahmu dihadapanku lagi! Aku mengumumkan
kepada seluruh undangan yang datang hari ini, PERTUNANGAN INI DIBATALKAN!”
semua undangan terkejut mendengar ucapan eomma Taeyeon. Banyak yang
menatap sinis pada Jiyong, bahkan ada juga yang berbisik-bisik secara
terang-terangan.
“Taeyeon! Ayo masuk! Bawa namjachingu mu juga!”
eomma Taeyeon berjalan mendahului Taeyeon dan Jinki. Lalu mereka duduk di ruang
tamu dengan posisi Jinki dan Taeyeon menghadap kearah eomma Taeyeon.
“Kau namjachingu Taeyeon yang sempat kuusir dulu
kan?” eomma Taeyeon mulai berbicara.
“Ne, saya namjachingu Taeyeon yang pernah anda
usir.” Jinki hanya menatap eomma Taeyeon sekilas. Takut mungkin.
“Siapa namamu, Nak? Aku lupa.”
“Lee Jinki. Lee Jinki imnida. Tapi kau bisa memanggilku Onew.” Onew
berusaha tersenyum ramah pada eomma Taeyeon. Taeyeon yang melihatnya pun ikut
tersenyum. Ia tidak salah memilih. Jinki yang sudah pernah diusir oleh
eomma-nya secara langsung itu masih bisa tersenyum dengan ramah. Jinki memang
namja yang baik.
“Ah lebih baik kupanggil kau Jinki saja. Jinki-ya,
maafkan aku sebelumnya. Aku benar-benar tidak menyangka bahwa kau adalah namja
yang tepat untuk Taeyeon kami. Aku menyesal sekali karena pernah meneriaki mu
dan mengusirmu.” Eomma Taeyeon mulai berkaca-kaca.
“Ne,
anda tidak perlu meminta maaf, Nyonya Kim. Saya rasa saya memang patut anda
usir saat itu.” Jinki
tetap saja tersenyum. Eomma Taeyeon yang melihatnya pun akhirnya menangis.
“Terimakasih,
Jinki-ya. Terimakasih banyak karena kau telah menyelamatkan Taeyeon kami.
Terimakasih. Mulai sekarang kau bisa memanggilku dan appa Taeyeon dengan
sebutan eomma dan appa.” Eomma Taeyeon berkata sambil tersenyum kearah Jinki
dan berdiri lalu memeluknya. Jinki dan Taeyeon yang terkejutpun hanya bisa
memandang kearah satu sama lain.
“Maksud
eomma, aku dan Jinki—”
“Ya, aku
mengijinkan kalian untuk menikah.” Eomma Taeyeon kembali tersenyum. Taeyeon
dan Jinki terkejut, namun akhirnya memeluk satu sama lain. Lalu Jinki pun
mengecup bibir Taeyeon lembut.
***
Onew’s POV
Aku
dan Taeyeon akhirnya menikah. Hari ini sudah 2 tahun setelah pernikahan kita.
Kita juga memiliki seorang bayi perempuan yang sangat lucu dan cantik. Hmm,
tentang hubungan kami dan Jiyong? Kami baik-baik saja. Sekarang Jiyong juga
sudah mempunyai istri. Namanya Sandara Park. Oh dan karirku dengan SHINee? Bagaimana
dengan SNSD? Tenang saja, karir kami masih berjalan dengan lancar. Para fans
kami pun menerima hubungan kami dengan baik. Ya, pada intinya, cinta hanya
berawal dari hal kecil. Bertemu di taman adalah salah satu contohnya.
END.
Okay, ini fanfic pertama saya. Jadi maaf kalau kurang puas dan kurang menohok (?) hati kalian.
Maaf juga kalo ga nyambung sama judulnya._.v
Please comment^^
No comments:
Post a Comment